Menteri Agama, Reposisi Santri, dan Wajah Indonesia

Menteri Agama, Reposisi Santri, dan Wajah Indonesia

Sebagai seorang santri, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin masih memegang teguh enam prinsip. Yakni, mandiri, kesederhanaan, ikhlas, moderat terbiasa beragam dan cinta tanah air.

Bagi dia, enam prinsip yang sekaligus merupakan ciri santri itu, seperti sudah tertanam di dalam diri. Namun, kondisi santri dulu dan kini jauh berbeda.

Lantas, masihkah prinsip-prinsip itu dipegang teguh santri masa kini. Belum lagi jika membenturkan ragam teknologi dan kebudayaan yang mampu menggerus prinsip dan ciri seorang santri.

Dengan melihat kondisi terkini, Menag mencoba mereposisi peran santri sehingga artikulasinya dapat memperlihatkan wajah santri, wajah Indonesia dan wajah dunia (baca: Islam).

Berikut wawancara lengkapnya dengan Djibril Muhammad, Tiara Sutari dan Muhammad Ammas di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta, Jumat (20/10)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

Definisi santri dulu dan kini seperti apa?

Santri dalam pengertian umum adalah mereka yang mendalami ilmu keagamaan, ilmu ke-Islam-an, yang biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan pondok pesantren (ponpes) atau madrasah. Ada nilai-nilai yang dianut karena ditanamkan sedemikian rupa dari para guru (kiai), sehingga membentuk ciri khas santri.

Nah, secara keseluruhan santri memang mengalami perubahan karena masing-masing era zaman itu tantangannya berbeda-beda. Katakanlah santri di era tahun 30-an, tahun 40-an, sebelum kemerdekaan, pascakemerdekaan, apalagi reformasi ini tentu ada bagian-bagian tertentu yang tidak sama.

Yang signifikan adalah bagaimana mengartikulasikan atau memanfaatkan ilmu yang dimiliki para santri dalam merespon tuntutan dinamika masyarakat yang dihadapi. Dahulu informasi komunikasi belum semarak seperti sekarang ini, proses pengajarannya dilakukan dengan tatap muka. Tapi di era digital tatap muka tidak diperlukan lagi.

Jadi kompleksitas persoalan sekarang jauh lebih besar, lebih kompleks dibanding era sebelumnya. Tapi nilai-nilai yang dianut santri masih konsisten dipegang. Yang saya maksud adalah nilai kemandirian, nilai kesederhanaan, dan nilai keikhlasan. Ini yang menjadi ciri santri, yang membedakan dengan yang lain bahwa di mana pun santri akan terlihat mandiri. Mandiri dalam banyak hal. Dia tidak terlalu tergantung dengan orang lain, karena dia terbiasa hidup mandiri.

Lalu nilai kesederhanaan itu juga bagian dari ciri santri. Dia tidak terbiasa hidup glamor, Tidak biasa hidup mewah. Kesederhanaan juga bisa dimaknai dalam artian menggunakan segala hal dalam perspektif Islam. Kemudian, keikhlasan juga bagian yang sangat menonjol.

Bagaimana langkah santri masa kini menjawab tantangan zaman?

Sekarang adalah era digitalisai. Kita sekarang menjadi umat digital. Apapun bangsa kita, etnis kita, budaya kita, semua warga dunia ini sudah jadi umat digital. Santri juga harus sangat akrab dengan dunia ini, karena dalam mendakwahkan, dalam mentransformasikan nilai-nilai agama, dengan informasi yang sangat luar biasa pesat kemajuannya sekarang ini harus dimafaaatkan.

Perubahan ini juga mengubah cara pandang generasi kita. Generasi milenial misalnya, mereka punya cara pandang tersendiri dalam merespon tuntutan dinamika masyarakat karena kompleksitas tuntutan yang dihadapi. Misalnya mereka tidak lagi cukup punya waktu untuk berlama-lama menyimak sesuatu hal. Ini juga kebiasan yang harus dipahami kalangan santri bagaimana agar memanfaatkan perubahan media ini menjadi sesuatu yang sangat penting diikuti supaya bisa terus up to date (dapat memperbarui informasi).

Bagaimana cara santri mengelola teknologi informasi?

Selain tiga ciri, santri dalam konteks Indonesia umumnya bisa dikenali memiliki pemahaman keislaman yang moderat, yang tidak ektsrem. Yang saya maksud adalah kemampuannya untuk menggabungkan tradisi keilmuan yang selama ini hanya mengandalkan teks saja. Teks itu berdasarkan Alquran dan hadis. Kemudian dipadukan menjadi kontekstual dengan kemampuan nalar, akal, yang di banyak kalangan sering kali dua hal ini dibenturkan, diberhadapkan. Antara teks dengan konteks, antara teks dengan nalar dengan akal. Dunia pesantren menggabungkan ini. Jadi akal didudukan secara profesional di hadapan wahyu (teks), tapi juga wahyu tidak bekerja sendiri, karena dia dilengkapi dengan akal dan nalar dalam merespon situasi konteks yang dihadapi.

Nah, ciri seperti ini yang kemudian membuat santri punya kemampuan untuk memilah dan memilih. Mana yang positif dan negatif, karena basic-nya mereka sudah miliki bekal itu. Santri itu ciri lainnya sudah sangat terbiasa menghadapi keragaman. Sejak hidup di pesantren, teman-temannya beragam dari daerah yang berbeda, bahasa yang berbeda, adat istiadat. Kajian-kajian tradisi keilmuan pun sangat beragam pandangan-pandanganya. Jadi tidak tunggal. Walhasil santri itu terbiasa dengan keragaman karena sehari-hari bergelut dengan keragaman. Itulah dia bisa arif dalam melihat keragaman meskipun tidak harus selalu menyetujui keragaman itu.

Yang ketiga, ciri santri itu sangat cinta kepada tanah airnya. Jadi seorang santri salah satu cirinya yang menonjol dia tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai nasionalisme. Santri selalu mengkaitkan bahwa tanah air itu bagian yang tidak dipisahkan karennya harus terus perjuangkan. Hanya masalahnya sebagian santri itu kurang cukup cepat mengikuti perkembangan sehingga masih kalah dengan yang lain dalam memanfaatkan perubahan tenologi. Ini tantangan santri sekarang yang perlu dicermati. Jadi poin saya adalah perlu repositioning santri. Jadi santri sekarang harus sangat akrab dengan media karena itulah medium, wadah untuk bagaimana dia bisa lebih mengartikulasikan keilmuannaya sehingga keberdaaanya bisa lebih dimafaatkan orang lain.

Sebagai menteri yang dulu santri, apa yang masih dipegang teguh?

Nilai kemandirian karena itu yang selalu diajarkan para guru (kiai) dan ciri kemandirian itu salah satunya keikhlasan. Jadi nilai-nilai seperti itu yang sangat berharga, yang sangat diperlukan ketika terjun di masyarakat. Dalam konteks luas kaitannya dengan keragaman. Umumnya santri tidak gampang kaget atau mudah panik kalau ada pandangan di luar mainstream, karena mereka sudah biasa membuat kajian. Bahkan paham seektrem apa pun itu sudah akrab karena bagian dari tradisi keilmuan di dunia pesatren. Jadi meskipun tidak setuju dengan paham aneh, dia tidak serta merta menyalahkan atau bahkan mengkafirkan, tidak. Santri itu tidak ada yang mengkafirkan karena tahu spektrum pemikiran itu sangat luas sekali. Jadi yang begini ini amat sangat positif ketika santri terjun di masyarakat.

Ya, saya tidak tahu masih saya pegang (prinsip santri) atau tidak, tapi itu build in pada diri saya karena itu sudah ditempa tahunan. Misalnya saya jalan kemana ke luar kota pakai pesawat tidak bisa, ya pakai kereta, kalau tidak bisa, ya bus. Itu artinya tidak tergantung. Saya ke beberapa tempat menggunakan motor patwal, biasa saja. Itu nilai. Misalnya, tiba-tiba dikritik orang sampai dimaki-maki ya terima saja. Itu bagian dari konsekuensi pejabat publik. Itu kan unsur keiklasan.

Kebijakan terkait santri?

Ketika pertama kali diangkat menteri, saya membuat regulasi, menyempurnakan agar lulusan pesantren salaf (tradisional) bisa diakui, dapat recognisi, pengakuan dari pemerintah, negara. Selama ini pesanteren salaf tidak ikut kurikulum (pemerintah) sehingga lulusan tidak diakui. Karena tidak diakui tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Nah ini yang menjadi problem sebagian pesantren. Lalu saya bikin aturan supaya ada penyetaraan. Supaya mereka dengan mengikuti beberapa proses tertentu lulusannya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekarang semua pesantren salaf sudah disetarakan.

Selama ini mereka tidak bisa lanjut karena tidak ada pengakuan. Lalu saya juga membuat Mahat Ali (pesantren tinggi) agar santri secara khusus memperdalam ilmu ke-Islam-an yang klasik, pelajari Alquran, hadis, fiqih. Sekarang alhamdulillah kita kembangkan awalnya ada 13, sekarang sudah berjumlah 26 di seluruh Indonesia. Masing-masing mahat ali konsentrasi pada satu bidang studi. Mahat Ali sudah ada 26 sejak 2014.

Santri populasi banyak, bisa jadi bonus demografi tidak?

Iya, mereka menjadi bagian dari bonus demografi karena dari usia mereka ini belasan sekrg ini. Jadi itulah kenapa saya titik tekankan pada repositioning santri. Wajah pesantren pada hakikatnya adalah wajah Indonesia. Kenapa? karena Indonesia ini mayoritas umat Muslim. Islam yang bagaimana? Islam, yang santri itu, yang pikirannya luas, yang inklusif, yang tidak mudah dan sering salahkan orang, yang wawasannya luas.

Jadi wajah Indonsia seperti apa sangat tergantung dari wajah pesantren. Maka kita di sini menekankan wajah pesantren itu wajah Indonesia sekaligus wajah dunia. Karena sekarang di era global kita tidak lagi disekat-sekat. Bahkan, kontribusi Muslim Indonesia besar sekali dalam menata peradaban dunia. Apalagi Islam sarat dengan nilai. Jadi bagaimana peperangan itu tidak mengatasnamankan agama. Santri punya tanggung jawab besar bagaimana mengisi wacana khusus tentang nilai-nilai itu. Wajah pesantren adalah wajah Indonesia yang sekaligus wajah dunia. Santri juga punya posisi harus membuka bahwa peran dia sangat diperlukan oleh dunia karena ini era globalisasi, digital.

Share this:

Next Post
Oldest Page
Disqus Comments